Kategori
Tidak Dikategorikan

Urgensi Menuntut Ilmu

Photo by http://daaruttauhiid.org

Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab yaitu ‘alima – ya’lamu yang berarti Tahu atau Mengetahui.

Selain bermanfaat bagi kemajuan zaman, ilmu juga merupakan syarat untuk diterimanya seluruh amalan seorang hamba. Sebagaimana HR Muslim dari Aisyah binti Abu Bakar, Nabi SAW bersabda: ” Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya atau ilmunya dari kami maka amalan tersebut tertolak”.

Selain itu pada Al-Quran surat Al-Isra ayat 36 disebutkan bahwa : ” Dan janganlah kamu mengerjakan apa-apa yang tidak tahu ilmunya”. Seperti ketika kita akan melakukan ibadah seperti sholat, puasa atau ibadah-ibadah yang lainnya maka kita harus mengetahui ilmunya terlebih dahulu.

Suatu ilmu harus disertai dengan kemantapan hati dan pengetahuan tentang apa yang menjadi tuntutannya. Kesempurnaan ilmu ada ketika tuntutannya sudah dipenuhi dan diamalkan. Ilmu yang tidak diamalkan kelak dihari kiamat akan menjadi penghujat atas pemiliknya. Ketika kita memiliki ilmu maka jangan hanya disimpan saja tetapi juga harus kita amalkan.

Keutamaan Mencari Ilmu
Allah memberikan kemuliaan kepada orang-orang yang berilmu dan memberikan keutamaan, diantaranya yaitu:

1. Allah SWT akan mengangkat derajat orang yang berilmu.
Di dalam (QS. Al-Mujadilah[11] : 58), Allah SWT. berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”

2. Orang berilmu akan dimudahkan jalan menuju surga. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW. bersabda : “Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim)

3. Orang berilmu akan memiliki pahala yang mengalir.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW. bersabda :
“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga hal. Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak yang sholeh atau sholehah.” (HR. Muslim)
Maksud dari hadits tersebut adalah, ilmu yang mengandung kebaikan yang diajarkan oleh seseorang kepada orang lain, kelak ilmu itu akan memberikan pahala yang mengalir kepada orang yang mengajarkan ketika ia sudah meninggal dunia.

4. Orang yang berilmu disejajarkan dengan para Malaikat.
Dalam (QS. Ali Imran : 18), Allah berfirman :
“Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan (yangberhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).”

5. Mendapatkan Pahala Sama dengan Orang yang Mengerjakan.
Dari penjelasan Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia memaparkan berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa yang menunjuk kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Adab Menuntut Ilmu

Dalam menuntut ilmu ada beberapa adab yang harus kita perhatikan.

Yusuf bin Husain pernah mengatakan,
بالأدب تفهم العلم

“Hanya dengan adab, Anda akan memahami ilmu.”

Bahkan Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada orang Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Maka dari itu, sangat penting untuk mempelajari adab terlebih dahulu sebelum menuntut ilmu. Berikut ini adalah adab dalam menuntut ilmu yang perlu diketahui:

1. Niat dan mengamalkan

Niat menuntut ilmu adalah untuk mencari ridho Allah SWT, hendaknya diiringi dengan hati yang ikhlas benar-benar karena Allah, bukan untuk menyombongkan diri, menipu orang lain atau bahkan pamer kepandaian, tetapi untuk menghilangkan diri dari kebodohan dan menjadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain.

2. Bersungguh-sungguh atau berijtihad.
Dalam menuntut ilmu haruslah bersungguh-sungguh dan tidak pernah berhenti. Allah mengisyaratkan dalam firmannya Q.S. Al-Ankabut ayat 69 yang berbunyi: “Dan orang-orang yang berjuang dijalan kami pastilah akan kami tunjukkan kepada mereka jalan kami.”

3. Terus-menerus.
Hendaklah kita jangan mudah puas atas ilmu yang kita dapatkan sehingga kita enggan untuk mencari lebih banyak lagi.

4. Sabar dalam menuntut ilmu.
Salah satu kesabaran terpuji yang harus dimilki seorang penuntut ilmu adalah sabar terhadap gurunya.

5. Membuang sifat sombong dan malu dalam menuntut ilmu.
Aisyah ra. berkata: “Sebaik-baiknya wanita adalah wanita anshor, sifat malu tidak menghalangi mereka dalam belajar dan mendalami agama”. Imam Mujahid berkata: “Orang yang pemalu dan orang yang sombong tidak akan bisa belajar ilmu”.

6. Menghormati dan memuliakan orang yang menyampaikan ilmu kepada kita.
Diantara penghormatan murid terhadap gurunya adalah berdiam diri maupun bertanya pada saat yang tepat dan tidak memotong pembicaraan guru, mendengar dengan penuh khidmat dan memperhatikan ketika menerangkan, dsb.

7. Baik dalam bertanya.
Ketika akan bertanya hendaknya untuk menghilangkan keraguan dan kebodohan yang ada pada diri kita, bukan untuk meremehkan, menjebak, mengetes, mempermalukan guru kita, dsb.

8. Menghindari segala bentuk kemaksiatan.
Caranya yaitu dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, ini adalah sarana untuk mendapatkan ilmu sebagaimana firman-Nya yang berarti: “Dan bertakwalah kepada Allah, Allah akan mengajarimu dan Allah mengetahui segala sesuatu.

Kondisi keilmuwan saat ini sudah tidak sesuai lagi dengan apa yang diharapkan Allah dan Rasul-Nya, banyak orang yang sudah terlalu mengagung-agungkan dunia. Ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan untuk kepentingan dunia dan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keseimbangan dan keselarasan lingkungan disekitarnya, bahkan penjelajahan ke planet Mars selain untuk mencari pengetahuan juga untuk mencari keyakinan apakah disana dapat ditempati oleh manusia, sungguh serakah manusia-manusia ini.

Banyak sekarang orang-orang di dunia yang tidak percaya lagi dengan Tuhan, bahkan mereka lebih percaya terhadap teknologi, mereka menganggap untuk apa kita membutuhkan Tuhan kalau sekarang kita sudah bisa menciptakan teknologi. Semoga kita bisa dijauhkan dari sifat-sifat yang demikian. Amin.

Kewajiban menuntut ilmu tidak hanya mengenai ilmu pengetahuan saja tetapi juga ilmu tentang agama yang hukumnya fardu ‘ain, karena beramal tanpa berilmu sama dengan bohong dan tidak ada artinya dimata Allah SWT, maka jika salah kita bisa terjerumus kedalam dosa.

Umat Islam juga tidak boleh ketinggalan dalam hal ilmu pengetahuan serta tidak boleh pula menjadi orang yang bodoh, karena orang yang pintar akan lebih disenangi. Dengan kepintaran yang kita miliki kita tidak akan mudah ditipu, dan dibohongi orang lain. Imam Syafi’i sendiri selalu merasa kurang akan ilmu yang dimilikinya dan selalu mencatat ilmu yang diperolehnya karena takut akan lupa.

Kategori
Tidak Dikategorikan

Pentingnya Menjaga Ukhuwah Islamiyah

photo by http://nu.or.id

Ukhuwah Islamiyah berarti persaudaraan Islam. Adapun secara istilah ukhuwah Islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap sesama saudara seakidahnya. Dengan berukhuwah kita akan timbul sikap saling menolong, saling pengertian, tidak mendzolimi harta maupun kehormatan orang lain. Sebagai sesama muslim sudah sepatutnya kita memiliki ikatan persaudaraan Islamiyah/ukhuwah Islamiyah tersebut.

Ukhuwah Islamiyah memiliki beberapa tingkatan, yaitu :

1. Ta’aruf ; yaitu saling mengenal diantara sesama umat islam, seperti yang biasa kita lakukan yaitu dengan cara saling berkenalan. Namun, maksud ta’aruf ini bukan hanya saling berkenalan bertukar nama akan tetapi kita juga saling mengenal sifat-sifatnya, kondisi sosialnya, keluarganya, apa yang disukai dan apa yang dibenci.

2. Tafahum ; yaitu saling memahami atau pengertian. Tidak hanya mengenal nama atau sifat tapi juga sudah saling memahami, sudah bisa saling menerima pendapat, sudah bisa saling menghormati prinsip masing-masing temannya.

3. Ta’awun ; yaitu saling menolong. Ta’awun merupakan buah dari sikap saling memperhatikan yang tadinya cuma saling pengertian akhirnya kita menjadi saling tolong menolong karena kita saling mengerti kondisi saudara seiman kita atau kondisi teman-teman kita.


Bentuk-bentuk ta’awun :
  • Ta’awun untuk melakukan kebaikan dan keta’atan; seperti saling mengajak dalam shalat, bersedekah ataupun mengajak pengajian.
  • Ta’awun dalam meninggalkan perbuatan yang munkar; yaitu saling mengingatkan jika temannya melakukan maksiat.
  • Ta’awun untuk mendorong manusia agar mendapat hidayah.

4. Tafakul ; yaitu saling menanggung. Inilah ketinggian ukhuwah Islamiyah, rasa sedih dan senang diselesaikan bersama, jadi ketika ada saudara yang mempunyai masalah maka kita juga ikut menanggung, kita ikut menyelesaikan masalahnya, bukan hanya simpati tetapi juga bersikap empati.

5. Itsar ; yaitu mendahulukan orang lain daripada diri sendiri. Ini adalah tingkat tertinggi dalam ukhuwah Islamiyah.

Sebenarnya tingkatan 4 T saja sudah sangat baik dan mencukupi, namun dari kalangan sahabat-sahabat rasul memberikan teladan sehingga pada tahapan yang kelima ini yaitu mendahulukan orang lain dari pada diri sendiri merupakan tingkatan yang tertinggi. Sebagai contoh ketika dalam suatu perang salah satu seorang sahabat sangat kehausan, Ia hanya mempunyai satu kali jatah air untuk diminum. Saat akan meminumnya terdengar rintihan sahabat lain yang kehausan, maka air tersebut Ia berikan kepada sahabat yang kehausan itu.

Pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah Islamiyah ini selain kebutuhan tapi juga memiliki beberapa keutamaan yang sangat luar biasa, yaitu :

  • Dosa-dosa orang yang menjaga ukhuwah Islamiyah akan terampuni. Rasulullah SAW bersabda: ” Jika seorang mukmin bertemu dengan mukmin yang lain, Ia memberi salam padanya lalu meraih tangannya untuk bersalaman, maka bergugurlah dosa-dosanya sebagaimana gugurnya daun dari pohon. Maka dari itu, alangkah baiknya kita membiasakan diri untuk memberi salam pada teman jika bertemu.
  • Dinaungi Allah dihari kiamat. Dalam HR Muslim dikatakan: Sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat berkata “Di mana orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, maka hari ini aku akan menaungi mereka dengan naungan yang tidak ada naungan kecuali naunganku.”
  • Berada dalam naungan Muhabbah Illahiyah. Dalam Hadits Qudsi, Rasulullah SAW bersabda: “Pasti akan mendapat cintaku orang-orang yang saling mencintai karena aku, saling mengunjungi karena aku dan saling memberi karena aku.
  • Berada di dalam surga Allah. Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru, ‘Berbahagialah kamu, berbahagialah dengan perjalananmu, dan kamu telah mendapatkan salah satu tempat di surga.” (HR. Imam Al-Tirmizi).
  • Merasakan manisnya iman. Rasulullah Saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang dapat merasakan manisnya iman: orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari mencintai dirinya sendiri, mencintai seseorang karena Allah, dan ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci jika ia dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR. Imam Bukhari).
  • Termasuk amal yang paling dicintai oleh Allah.
Hal-hal yang menguatkan ukhuwah Islamiyah:

  • Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang mencintai saudaranya hendaklah Ia mengatakan cinta kepadanya.”
  • Minta di do’akan dari jauh saat berpisah. Dalam keadaan berpisah atau dalam keadaan tidak bersama ini contoh ukhuwah Islamiyah yang bisa kita lakukan yaitu saling mendoakan.
  • Bila berjumpa tunjukkan wajah gembira & senyuman. Jika bertemu dengan teman alangkah baiknya kita tersenyum. “Janganlah engkau meremehkan kebaikan (apa saja yang dating dari saudaramu), dan jika kamu berjumpa dengan saudaramu maka berikan dia senyum kegembiraan.” (H.R. Muslim).
  • Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim). “Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabatan tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (H.R Abu Daud dari Barra’)
  • Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
  • Mengucapkan selamat pada saudara yang mencapai kesuksesan
  • Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu terutama pada waktu istimewah